Kencan Dengan Tuhan

← Kencan Dengan Tuhanhace 4 días · 6 min

Edisi Hari Selasa, 13 Oktober 2026 - Peka, peduli dan jadi berkat untuk sesama

Edisi Hari Selasa, 13 Oktober 2026 - Peka, peduli dan jadi berkat untuk sesamahace 4 días6 min

<p>Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 13 Oktober 2026</p><p><br></p><p>Bacaan: </p><p><strong>&quot;Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!&quot; </strong><em>(Filipi 4:5)</em> </p><p><br></p><p>Renungan:</p><p> Ada istilah mengatakan bahwa kepintaran dapat kita peroleh di bangku sekolah, tetapi kearifan. kebijaksanaan, kebaikan hati, disb, hanya dapat kita pelajari dari kehidupan ini. Dengan lebih seringnya kita melihat ke sekeliling, kita akan dapat menyaksikan masih ada banyak hal baik yang dapat kita teladani.</p><p> Suatu hari ada seorang mahasiswa naik angkutan umum yang dikemudikan oleh seorang anak muda. Di dalam angkutan tersebut ada 6 orang penumpang termasuk sang mahasiswa. Tidak seperti sopir angkutan umum lainnya yang mengemudi secara ugal-ugalan, sopir angkutan umum yang ditumpanginya merupakan salah satu pengemudi yang baik. Sopir tersebut mengemudi dengan kecepatan rata-rata, sehingga penumpang merasa aman. Dari kejauhan sang mahasiswa melihat ada seorang ibu dengan tiga anaknya, yang satu masih bayi, berdiri di tepi jalan. Beberapa angkutan umum yang ugal-ugalan mendahului kami, hanya berhenti di depan mereka, tetapi tidak mengangkut ibu tersebut dengan anak-anaknya. Akhirnya mobil angkutan yang ditumpanginya berhenti di depan ibu tersebut. &quot;Mas, lewat stasiun ya?&quot; tanya ibu itu. Tentu saja sopir itu menjawab, &quot;Ya.&quot; Namun ibu itu tidak lekas naik. Dengan nada sedikit gemetar ia berkata, &quot;Maaf Mas, tetapi saya tidak punya ongkos.&quot; Sambil tersenyum sopir itu menjawab, &quot;Nggak apa-apa Bu, naik saja.&quot; Tetapi ibu tersebut seperti nampak ragu, sehingga sopir itu berkata lagi untuk meyakinkannya, &quot;Ayo Bu, naik saja, tidak apa-apa,&quot; ucap sopir tersebut. Perlakuan sopir tersebut membuat sang mahasiswa menaruh apresiasi besar terhadapnya. Sebab, di saat sopir-sopir yang lain berlomba-lomba mencari penumpang, anak muda itu justru merelakan beberapa tempat untuk diberikan secara gratis. Akhirnya, tibalah ibu tersebut di tempat tujuannya, dan kami melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari tempat pemberhentian ibu yang tadi, seorang pria paruh baya turun dari mobil angkutan tersebut. Pria itu memberikan uang 50 ribu. Ketika sopir hendak memberi kembalian, pria tersebut berkata, &quot;Tidak usah. Uang itu untuk membayar tumpangan saya beserta ibu dan anak-anaknya yang tadi. Teruslah berbuat baik, Dik.&quot; Sungguh peristiwa yang mahal harganya bagi seorang ibu yang jujur dengan keadaa